Wednesday, May 13, 2009

MAKALAH HAKEKAT PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN MASYARAKAT





 

KATA PENGANTAR
 
Alhamdulillahi Robbil Alamin─puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan izinnya kepada saya sebagai penulis untuk menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berjudul “Hakekat Pembangunan Dan Perubahan Masyarakat”.
Makalah ini sengaja saya tulis untuk menjadi bahan referensi bagi kita dalam melirik pembangunan agar bisa memberikan banyak manfaat utamanya di dalam masyarakat Indonesia pada saat ini.
Saya sebagai penulis mohon maaf apabila dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, saya sangat menghargai ide-ide dari pembaca demi kesempurnaan makalah saya di hari yang akan dating.

BAB I
PENDAHULUAN

 
A. LATAR BELAKANG


Pembangunan yang berlangsung didunia selama beberapa dekade setelah Perang Dunia ke-II telah mampu meningkatkan tingkat pendapatan rata-rata yang jauh lebih tinggi. di hampir semua negara. Namun, bersamaan dengan itu, pembangunan yang meningkat itu belum mampu memperbaiki tingkat hidup kaum dhuafa, baik yang tinggal di kota-kota besar maupun yang hidup didesa-desa. Persoalannya terletak pada pengertian tentang pembangunan yang dipahami oleh para pelaksana pembangunan tidak relevan dengan masalah hidup yang dialami oleh kaum tersebut dinegara-negara yang bersangkutan. Akibatnya, pendekatan yang dipakai, strategi yang dipergunakan dan program pembangunan yang diterapkan seringkali tidak sesuai dengan kenyataan hidup dan kepentingan mereka.


Terlalu banyak contoh untuk disebutkan, kalau konsep pembangunan itu telah melahirkan proyek-proyek besar, jalan-jalan raya, gedung-gedung mewah, dan lain-lain yang berlangsung bersamaan dengan linangan air mata dari mereka yang terpinggirkan. Bahkan dinegara-negara yang sedang berkembang, kalangan menengah yang tidak dekat dengan pusat kekuasaan seringkali mengalami ketidak-pastian hidup. Sebab itu diantara mereka yang mempunyai ketrampilan atau keahlian yang memadai banyak yang pindah kenegara-negara yang lebih maju. Sementara kaum dhuafa yang hidupnya pas-pasan atau yang lebih rendah dari itu, hanya layak untuk berpikir tentang kemungkinan dapat hidup sampai besok pagi. Artinya, persoalan hidup bagi mereka tidak lebih dari sekedar asal hidup. Sebagian dari mereka terdiri dari penduduk desa yang pindah kekota (urbanisasi) untuk mengadu untung mencari kehidupan di kota-kota besar. Mereka melihat, dikota-kota besar terdapat kesempatan usaha yang lebih besar. Tetapi karena mereka datang tanpa modal dan persiapan ketrampilan apapun, kesempatan yang ada itu tak mungkin diraihnya. Akibatnya mereka terhempas menjadi gelandangan kota. Semua ini terjadi karena terpusatnya pembangunan di kota-kota besar. Sementara itu, pendidikan juga mengarah pada persiapan anak didik menjadi calon pegawai, bukan untuk mengembangkan kemampuan hidup mandiri. Akibatnya, tanpa memperoleh kesempatan kerja yang tersedia, para terpelajar itu tak berbeda dengan mereka yang tidak berpendidikan sama sekali.


Pembangunan yang tidak berpihak pada golongan miskin tersebut pada gilirannya telah meminggirkan sejumlah besar ummat manusia dari proses dan hasil-hasil pembangunan. Keadaan ini dapat dilihat pada angka-angka yang ditunjukkan dalam Human Development Report dari UNDP. Bersamaan dengan tingginya tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi rata-rata dunia pada saat ini, 1,2 miliar ummat manusia hidup dengan pendapatan rata-rata kurang dari $ 1 sehari (1993 PPP US $), dan pada tahun 1998 terdapat 2,8 miliar manusia hidup dibawah $ 2 sehari. Dalam bidang kesehatan, kemajuan teknologi telah mampu melakukan pembuahan buatan dan bayi tabung, serta teknologi cloning, tetapi sekitar 968 juta umat manusia masih hidup tanpa akses terhadap sumber air, 2,4 milliar manusia tak memiliki akses terhadap sanitasi kesehatan yang paling dasar sekalipun, 34 juta hidup dengan mengidap HIV/AID, 11 juta balita mati setiap tahun karena berbagai sebab yang sesungguhnya dapat dicegah. (UNDP, Human Development Report 2001: 9; Stiglitz, 2002: 253).
Semua itu berlangsung pada saat teknologi telah mampu mendekatkan hubungan antar negara, yang pada gilirannya telah merubah pola hidup dan selera dari rakyat dinegara-negara berkembang menjadi lebih konsumtif dengan menirukan pola hidup dan selera dari rakyat dinegara-negara maju (demonstration – effect). Dengan pola hidup yang demikian dapat dibayangkan kalau sebagian besar dari pendapatan masyarakat dikeluarkan hanya untuk konsumsi. Sedikit sekali tersisa untuk investasi. Konsekuensi dari keadan itu adalah langkanya modal dalam masyarakat negara berkembang dan terjadinya berbagai kebocoran dalam birokrasi pemerintah dan masyarakat.
Hal ini mendorong kita untuk berpikir ulang tentang makna dari pembangunan yang sesungguhnya. Bagaimana seharusnya kita memahami pembangunan ini? Upaya apa yang harus dilakukan agar pembangunan itu tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang telah mampu, tetapi juga dan terutama bermanfaat untuk mereka yang miskin atau belum mampu.


B. TUJUAN 

Pembangunan di Negara sudah semakin pesat sehingga melahirkan masyarakat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Tidak lain tujuan saya dalam menulis makalah ini adalah memberikan pengertian kepada orang-orang terdidik atau yang mempunyai keterampilan sebagai pemegang kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan agar kiranya dapat melirik saudara-saudara kita yang menjadi korban dari maraknya pembangunan kota sehingga mereka kaum dhuafa dapat juga merasakan fasilitas pembangunan tersebut. Pembangunan haruslah seiring sejalan dengan lingkungan (pembangunan yang berwawasan lingkungan), bukan berarti saling tumpang tindih diantara keduanya.


C. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian Hakekat Pembangunan
2. Kriteria dan Pendekatan Pembangunan
3. Strategi Pembangunan dan Partisipasi Masyarakat
4. Peran Manusia dan Perubahan Masyarakat

Selengkapnya Download Konfirmasi Password Makalah di 085255631703 Kode Makalah 17