Friday, May 15, 2009

MAKALAH DAMPAK PEMBANGUNAN TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP





 

KATA PENGANTAR 
 
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT yang mana telah memberi kita taufiq dan hidayah-Nya sehingga tugas Karya Tulis ini dapat terselesaikan tanpa suatu halangan dan rintangan yang cukup berarti.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membimbing kita dari jalan kegelapan menuju jalan Islami..
Tak lupa kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah bersusah payah membantu hingga terselesaikannya penulisan makalah ini. Semoga semua bantuan dicatat sebagai amal sholeh di hadapan Allah SWT.

Saya menyadari walaupun saya telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyusun Karya Tulis sederhana ini, tetapi masih banyak kekurangan yang ada didalamnya. Oleh karena itu, segala tegur sapa sangat saya harapkan demi perbaikan tugas ini. Saya berharap akan ada guna dan manfaatnya Karya Tulis ini bagi semua pembaca. Amin.


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Bencana lingkungan yang terjadi di berbagai bagian belahan bumi makin beragam. Tidak hanya masalah banjir dan erosi saja yang terjadi tetapi juga timbul masalah tanah longsor, punahnya berbagai jenis tumbuhan dan binatang sampai pada masalah pencemaran pada tanah, air, dan udara. Berbagai kenyataan yang terjadi dapat dikemukakan sebagai contoh. Malapetaka lingkungan yang terjadi di Ethiopia (Afrika) tahun 1980 berupa kekeringan dan kelaparan berawal dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, penggundulan hutan, erosi tanah yang meluas, dan kurangnya dukungan terhadap bidang pertanian (Brown, 1987). Bocornya pabrik pestisida di Bopal (India) dan bencana yang terjadi di Chernobyl (Rusia) ternyata menimbulkan pencemaran lingkungan, kematian dan gangguan kesehatan seperti kebutaan, penyakit kulit serta cacat seumur hidup (Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan, 1988). Kepunahan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang yang terjadi akhir-akhir ini ternyata tidak hanya melanda daerah kering tetapi juga pada daerah tropis dan lainnya. Bila gejala tersebut terus berlangsung maka dalam waktu 20-30 tahun mendatang bumi akan kehilangan jutaan jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang. Salah satu penyebabnya adalah ulah manusia (UNEP, 1992).
Manusia mempunyai kemampuan berpikir dan daya cipta yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan kehidupannya. Melalui kemampuan berfikir tersebut, manusia menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kemudian dimanfaatkan dalam kehidupan. Hasilnya menurut Habibie seperti yang dikutip oleh Noer dan Iskandar (1988) ternyata tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan berproduksi saja tetapi juga dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Peningkatan kemampuan berproduksi dan perbaikan kesejahteraan tersebut membawa perubahan dalam kehidupan, baik kehidupan ekonomi, sosial maupun terhadap lingkungan. Keinginan untuk dapat memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi yang terus berkembang tersebut menyebabkan terjadinya perubahan terhadap lingkungan fisik. Hutan, tanah, air, sungai, rawa dan sumber alam lainnya berubah wujudnya menjadi jembatan, jalan, perumahan, kawasan industri, perabot rumah tangga, gedung, kendaraan bermotor, pembangkit tenaga listrik dan lainnya (Sumaatmadja, 1981). Keinginan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya yang terus berkembang tersebut menurut Rene Dubos seperti dikutip Chiras (1985) adalah karena sifat dasar manusia adalah sama dengan sifat dasar makhluk biologis lainnya yang mau makan sebanyak mungkin untuk hidup bagi dirinya sendiri dan bagi keturunannya.
Untuk mengatasi masalah lingkungan yang makin meningkat tersebut dilakukan berbagai usaha, baik yang bersifat global maupun nasional dan regional. Pada tahun 1992 misalnya PBB mengadakan konferensi di Rio de Jenairo, yang bertujuan untuk mengatasi masalah lingkungan dan pembangunan yang dihadapi oleh negara-negara di dunia. Bahwa pembangunan yang sedang dilaksanakan tidak hanya memperhatikan kebutuhan ekonomi dan teknologi saja, tetapi aspek lingkungan dan kelangsungan hidup manusia perlu diperhatikan. Gagasan tersebut dikenal sebagai pembangunan berkelanjutan dan telah disepakati menjadi kebijakan pembangunan semua negara di dunia. Melalui pendidikan dan partisipasi masyarakat diharapkan dapat dikembangkan perubahan sikap dan norma-norma perilaku yang baru dalam bertindak terhadap lingkungan (Brundtland, 1988). Preston (1992) menyatakan bahwa sasaran kebijaksanaan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang terutama adalah pembinaan perilaku penduduk setiap negara terhadap lingkungan.
Indonesia merupakan bagian dari dunia. Karenanya, diharapkan dapat berpartisipasi dalam mengatasi masalah lingkungan. Hal tersebut dapat dilihat dengan diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Kegiatan Pembangunan. Selanjutnya, Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera memuat materi tentang penduduk dengan daya sokong dan daya tampung lingkungan. Kedua Undang-Undang tersebut masih baru sehingga informasinya pada masyarakat perlu disebarluaskan. Usaha tersebut dilakukan mengingat keberhasilan dari pembangunan berkelanjutan pada dasarnya adalah menyangkut upaya penduduk dalam mengembangkan kemampuan lingkungan untuk menunjang kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang (Dahlan, 1992).
Bertolak dari uraian di atas maka perilaku yang cenderung menyebabkan merosotnya kualitas lingkungan mungkin berhubungan dengan tingkat pengetahuan lingkungan. Berdasarkan hal tersebut maka timbul dugaan sementara bahwa pengetahuan tentang lingkungan hidup seseorang ada hubungannya dengan perilaku lingkungannya. Begitupun juga keinovatifan yang dimiliki seseorang berhubungan pula dengan derajat perilaku perilaku lingkungannya. Seberapa kekuatan hubungan antara tingkat keinovatifan dan pengetahuan tentang lingkungan hidup seseorang dengan derajat perilaku berwawasan lingkungannya dapat diketahui melalui kegiatan penelitian. Timbulnya bencana lingkungan seperti yang telah dikemukakan terdahulu antara lain disebabkan perilaku penduduk yang tidak bertanggung jawab terhadap keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Akibatnya lingkungan menjadi rusak sehingga dapat menghambat pembangunan dan mengganggu kelangsungan kehidupan. Dengan demikian diupayakan agar lingkungan tetap dapat mendukung kehidupan yang berlanjut melalui pengembangan perilaku baru yakni perilaku masyarakat yang berwawasan lingkungan.
Kegiatan pemeliharaan lingkungan dapat dimulai dari lingkungan terkecil yakni lingkungan tempat tinggal keluarga. Moran (1980) menyatakan bahwa penduduk dalam lingkungan terkecil perlu memahami dan menganalisis kondisi lingkungannya. Perilaku berwawasan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti tingkat pendidikan, status sosial, keinovatifan, pengetahuan tentang lingkungan, sikap terhadap kebersihan lingkungan dan sebagainya.


B. TUJUAN

Salah satu tujuan menciptakan pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah supaya pembangunan, utamanya di Indonesia dapat seiring sejalan dengan lingkungan. Artinya di samping mengadakan pembangunan kita tidak lupa dengan keberadaan lingkungan yang harus diperhitungkan agar kedepannya tidak menjadi dampak bagi kehidupan yang akan dating.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas, tulisan ini secara khusus akan membahas permasalahan :
1. Apa pengertian dari lingkungan hidup ?
2. Jelaskan kriteria hukum-hukum yang berlaku dalam suatu lingkungan ?
3. Bagaimana pemanfaatan lingkungan hidup dalam masyarakat ?
4. Apa keterbatasan ekologis dalam pembangunan ?
5. Bagaimana cara menyelesaikan interaksi dan rentetan permasalahan
rumit ?
6. Apakah pembangunan harus berwawasan lingkungan dan berkelanjutan ?

Selengkapnya Download Konfirmasi Password Makalah di 085255631703 Kode Makalah 21